
Pugar Restu Julian, atau cukuplah loe panggil dengan Uga. Seorang drummer dan songwriter yang sudah malang melintang di scene indie sekaligus seorang perintis label rekaman indie bernama Sirinesekarat Records.
Musisi kelahiran 15 Juli 1978 ini pertama kali jatuh cinta pada drum pada saat ia melihat video Motley Crue yang menampilkan sang drummer Tommy Lee dengan set drums yang digantung dilangit-langit. Keinginannya yang kuat untuk main drum, meski sempat dilarang oleh orang tuanya, toh akhirnya tersalurkan di sebuah tempat les drum bernama Lowrey.
Berlanjutlah Uga sebagai drummer dengan band pertamanya yang bernama SleepWalker. Setelah itu, ia terhitung beberapa kali tampil bersama band-band yang berbeda, baik sebagai personil tetap maupun sebagai additional drummer. Untuk peran additional player, kita pasti pernah melihat Uga tampil bersama Tika, Couple (Malaysia), Clover, Sweaters, God Must Be Crazy, Sugarstar, A Boy Named Santiago, The Safari, Sore, dan Pure Saturday.
“Waktu itu pernah ngedrumin Pure Saturday walau hanya dua lagu, PS itu band kesukaan gue! Mimpi yang menjadi kenyataan!,” ungkap Uga yang enggak nyangka bisa ngejam bareng Pure Saturday.
Sebagai personil tetap, alumni FISIP UI jurusan Advertising ini sudah merasakan pahit manisnya scene indie bersama Vessel (2000-2002), Planet Bumi (2003-2004), Blossom Dairy (2003-2004), dan C’mon Lennon (2003-2006). Kini Uga masih terus main drum bersama Zeke and The Popo, serta proyek pribadi yang dimulainya sejak tahun 2002 bernama thedyingsirens. Untuk melampiaskan idealismenya, Ugapun mendirikan Sirinesekarat Records yang awalnya dibentuk untuk menaungi karya-karya dari thedyingsirens. Namun Uga berharap seiring kemajuannya, label ini juga bisa menjadi wadah untuk karya-karya musisi lain.
Belum puas bermain-main dalam dunia musik, kecintaan Uga terhadap seni membawanya tergabung dalam komunitas Bungamatahari. Drummer yang mengidolakan Pete Yorn, Richard Ashcroft, Dave Grohl, dan Billy Corgan ini mengaku senang karena bisa bebas mengekspresikan rangkaian kata-kata seperti apa pun bentuknya melalui Bungamatahari yang mengusung jargon ’semua bisa berpuisi’. Tak jarang puisi-puisi karya Uga menjadi sumber inspirasinya untuk menulis lagu.
Di mata Uga, saat ini perkembangan musik indie di Indonesia sedang berkembang pesat. Kemajuan zaman dan teknologi telah membuat proses produksi dan promosi dalam bermusik menjadi sangat mudah. Ditanya apa mimpinya sebagai seorang musisi, Uga menjawab ingin ngejam bareng musisi favoritnya, memiliki studio sendiri dan manggung di luar negeri.